kantorbolakantorbolakantorbolakantorbolakantorbola77kantorbola77kantorbola77kantorbola88kantorbola88kantorbola88kantorbola99kantorbola99kantorbola99

Big Chicken: A Fast Food Conspiracy (2026) 5.910

5.910
Trailer

Nonton Film Big Chicken: A Fast Food Conspiracy (2026) Sub Indo | CGVINDO

Nonton Film Big Chicken: A Fast Food Conspiracy (2026) – “Kupikir kau bakal mati,” ujar seorang remaja dengan blak-blakan kepada komedian Mo Gilligan saat ia menceritakan rencananya untuk hanya makan dari kedai ayam goreng selama sebulan. Bocoran: dia selamat. Namun, setelah menyantap 84 porsi ayam goreng, berat badan Gilligan bertambah, kesehatannya memburuk, dan ia mulai merasa depresi. Dalam film dokumenter Netflix yang jenaka, apik, dan mudah dinikmati ini, ia menantang “Big Chicken”—julukan bagi industri peternakan unggas berskala besar. Dengan memadukan jurnalisme dokumenter dan gaya humornya yang sangat memikat, ia bisa dibilang sebagai sosok ala Michael Moore atau Morgan Spurlock bagi Generasi Z (Spurlock melakukan eksperimen serupa 20 tahun lalu dengan hanya menyantap makanan McDonald’s selama sebulan dalam film dokumenter tahun 2004, *Super Size Me*).

Di awal film, Gilligan menikmati momen melangkah masuk ke kedai ayam goreng tanpa rasa bersalah sedikit pun (“Mana sayap ayamnya!”). Tumbuh besar di keluarga berpenghasilan rendah di London, menyantap seember ayam KFC adalah sebuah kemewahan bagi keluarganya. Ia bahkan pernah menjadi pengisi suara untuk iklan Nando’s; “Ya cuma ayam, kan?” pikirnya saat itu. Hal yang sangat menarik dari film ini adalah keterkejutan Gilligan saat menelusuri industri tersebut lebih dalam; reaksinya tampak tulus dan bukan sekadar akting demi kamera. Inggris memelihara satu miliar ekor ayam setiap tahunnya, dan di Lincolnshire, Gilligan bertemu dengan aktivis kesejahteraan hewan yang mengenakan penutup wajah (*balaclava*) (“Ini rasanya seperti main *Call of Duty*. Aku takut!”). Ia mempelajari dampak kerusakan lingkungan pada sungai akibat peternakan ayam serta menelusuri stigma rasis yang mengaitkan orang kulit hitam dengan ayam goreng.

Di Amerika, ia menyelidiki kondisi kerja di pabrik, di mana para pekerja dilarang izin ke toilet sehingga terpaksa mengenakan popok. Saat kembali ke hotel, ia menangis; menyantap ayam goreng untuk sarapan, makan siang, dan makan malam ternyata berdampak buruk pada suasana hatinya. Gilligan berkonsultasi dengan seorang psikolog yang menjelaskan bagaimana makanan ultra-proses membuat kita ketagihan dan merasa sangat senang sesaat—sebelum akhirnya mengalami penurunan drastis (*crash*) setelahnya. Perubahan pada diri Gilligan terlihat jelas; ia menjadi lesu dan mudah marah. Pola makan ayam goreng ini mungkin tidak sampai merenggut nyawanya, namun jelas berdampak buruk bagi kesehatannya.

Tentu saja, ada sanggahan yang muncul: bukankah kita memang tidak seharusnya makan ayam goreng setiap hari? Namun, seperti yang ia temukan, separuh dari asupan kalori masyarakat Inggris ternyata berasal dari makanan ultra-proses. Dan secara global, kini jumlah anak yang mengalami obesitas lebih banyak daripada anak yang kelaparan. Mungkin bisa dikatakan bahwa Gilligan tidak mengungkap hal baru dalam filmnya, namun ia mungkin berhasil menjangkau audiens baru. Setidaknya, film ini kemungkinan akan mendorong penonton untuk berhenti mengonsumsi gula secara total dan seketika.

Jangan lupa untuk selalu cek Film terbaru kami di CGVINDO.